
Akhir-akhir ini dunia politik lagi rame banget dari reshuffle menteri, drama soal tunjangan pejabat, sampai isu ekonomi yang bikin rakyat makin resah. Timeline media sosial pun penuh debat, saling nyindir, bahkan saling jatuhin. Tapi justru di momen kayak gini, santri jangan cuma jadi penonton pasif atau ikut-ikutan nyebar hoaks. Kita harus jadi penyejuk di tengah panasnya suasana.
Sebagai santri, kita udah punya modal besar seperti ilmu agama, akhlak, dan mindset cinta damai. Tapi semua itu harus di-upgrade biar relevan sama zaman digital. Gak cukup cuma ngaji, kita juga harus melek politik, peka sosial, dan kritis. Bukan buat jadi buzzer, tapi biar bisa bantu jaga arah negeri ini tetap di jalur kebaikan.
Ternyata Allah sudah menyampaikan dalam Q.S Al-Maidah ayat 2
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ٢
“Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan takwa, jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan” (QS. Al-Māidah: 2)
Artinya, kalau mau terjun atau bersuara soal politik, niatkan buat membawa maslahat, bukan malah ikut nyebar kebencian. Santri harus berani bersuara tapi tetap sopan, terbuka diskusi tapi gak gampang baper, dan selalu cek fakta biar gak termakan provokasi.
Karena pada akhirnya, politik cuma alat yang penting kita bisa jadi generasi penyejuk, bukan pemicu panas. Santri harus siap jadi “penjaga nurani bangsa” yang keren, kritis, dan tetap beradab. Salam Perjuangan!