Membuang Insecurity dengan Lebih Bersyukur

Santri dikenal oleh masyarakat dengan banyak potensi yang dimilikinya. Mulai dari kemampuan memimpin tahlil, kemampuan memainkan alat hadroh, lancar dengan Alfiyah ibnu malik, lancar dengan hafalan Al-Qur’an, dan masih banyak lagi. Tetapi siapa sangka tidak sedikit dari teman-teman yang masih merasa “insecure”.

Insecure atau rasa tidak aman, bisa diartikan sebagai rasa takut akan sesuatu yang dipicu oleh rasa tidak puas dan tidak yakin akan kapasitas diri sendiri. Insecure terkait dengan kondisi kesehatan mental seperti kecemasan, paranoid (masalah psikologis yang ditandai munculnya rasa curiga dan takut berlebihan), narsistik (gangguan kepribadian dengan kondisi dimana seorang merasa dirinya penting, sangat membutuhkan perhatian dan kekaguman berlebihan).

Insecurity atau bisa dikatakan sebagai perasaan tidak aman. Ketidaknyamanan ini bisa terjadi saat seseorang merasa malu, bersalah, kekurangan, atau bahkan tidak mampu seperti gampang minder, gampang stress, gampang overthinking bahkan membuat kita semakin malas untuk memperbaiki diri. Coba kita lebih percaya dengan diri kita, sesekali meluangkan waktu untuk berbicara pada diri sendiri, memberi afirmasi positif ke tubuh kita. Secara tidak sadar hal ini dapat mengubah mindset kita untuk lebih menghargai diri sendiri.

Q.S Ibrahim ayat 34 yang berbunyi :

وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ ࣖ

Artinya : “Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”

              Di dalam Ayat tersebut bisa dipahami sesungguhnya Allah SWT telah memberikan nikmat kepada setiap hambaNya, dan kita tidak akan mampu menghitung betapa banyaknya nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada kita sebagai hambaNya. Allah memberikan nikmat kepada kita sesuai dengan kebutuhan kita bukan apa yang kita inginkan.

              Oleh karena itu, hendaknya kita membuang apa itu insecure dan memulai lebih bersyukur dengan potensi yang dimiliki. Contoh sederhananya Ketika santri ingin lanyah dengan hafalan Al-Qur’an atau kitab berarti harus dimulai dengan istiqomah nderes atau muthola’ah bukan membanding-bandingkan capaian kita dengan orang lain. Dengan seperti itu kita akan banyak mendapatkan kebahagiaan jika bisa mensyukuri segala yang kita dapatkan. Wallahua’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *